ShareIslam: Inspirasi
News Update
Loading...
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Thursday, 13 July 2017

Berhijrah

Berhijrah


Aku rasa setiap muslim --terutama yang sudah akil bhaliq-- pasti pernah, sedang, atau InshaAllah akan melalui sebuah fase dalam hidup yang dinamakan “hijrah”.

Hijrah aku artikan sebagai sebuah proses menjadi seorang muslim yang lebih baik. Namun, dalam artikel ini, arti hijrah aku fokuskan pada masa peralihan seorang muslim yang menganggap agamanya sebagai 'asesoris' belaka menjadi seorang muslim yang menganggap agamanya sebagai jalan hidup mereka.

Atau --dengan bahasa yang sedang viral-- hijrah adalah proses di mana seorang muslim yang agamanya sekedar warisan berubah menjadi muslim yang agamanya adalah pilihan hatinya.

Berhijrah adalah keniscayaan bagi semua muslim yang memang serius ingin mendalami agamanya. Dan itu patut kita sadari karena tidak ada orang yang seketika menjadi alim sejak lahir. Bahkan tidak untuk nama-nama besar seperti Adi Hidayat, Khalid Basalamah, Felix Shiauw, Reza Syafi Basalamah, Aa Gym, dan Zainudin MZ sekalipun. Pasti semuanya pernah melewati fase hijrah.

Kalau kamu mengenal Nouman Ali Khan, mungkin kamu akan terkejut dengan masa mudanya. Nouman ternyata pernah menghabiskan masa remajanya untuk hura-hura, bahkan secara terang-terangan membenci komunitas Islam dan segala macam perilakunya. Bahkan beliau lupa berapa jumlah rakaat shalat Maghrib. Padahal beliau terlahir dalam keluarga muslim.

Namun atas izin Allah, pemuda asal Pakistan itu tergerak untuk mempelajari Al-Quran dan tumbuh besar menjadi seorang da’i. Beliau adalah inspirator lahirnya page “khalid” ini dan –menurutku-- salah satu da’i terbaik bagi generasi milenial.

***

Bila berkaca pada pengalamanku sendiri, hijrah memang sebuah fase yang spesial dan penuh perubahan. Umpama metamorfosis pada ulat, hijrah adalah kepompong yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Meskipun, tentu saja, hijrah tidak benar-benar mengubah tampilan fisik seseorang layaknya metamorfosis, tetapi sebatas mengubah pola pikir dan perilakunya.

Sebelum berhijrah, seseorang akan cenderung berpikir dan berperilaku bebas. Namun setelah berhijrah, rasa keterikatan pada Islam akan muncul, di mana rasa keterikatan itu perlahan akan menghapus kebiasaan, perilaku, ucapan, hingga minat-minat lamanya yang cenderung semaunya sendiri. Semuanya diganti dengan ketundukan pada aturan Islam.

Nah, bicara tentang minat, aku pribadi merasa bahwa faktor tersebut adalah yang paling terkena dampak dari hijrah. Ada setidaknya tiga minatku yang menurun drastis karena berhijrah.

Pertama, menurunnya minatku pada musik.

Meski bukan musisi, aku pernah jadi pecandu musik. Memasang earphone di telinga dan memutar ratusan lagu dari telepon pintar kerap menjadi ‘pelarian’-ku di kala bosan, senggang, atau sedang galau. Mendengarkan lagu dengan segala lirik manisnya bisa membuat sel-sel otakku lebih hidup dan bergembira. Penatku juga bisa hilang seketika.

Namun, ketika berhijrah, sensasi itu berubah drastis. Mendengar musik terasa ‘kosong’. Nada-nada indah dari sang vokalis dan berbagai instrumen yang dimainkan krunya --yang biasanya begitu mudah menenangkan hatiku—kini seakan diboikot oleh telingaku. Bukan berarti aku jadi benci musik, hanya saja aku jadi tidak menikmatinya seperti dulu.

Kedua, menurunnya minatku pada cerita-cerita fantasi.

Kamu tahu, aku pernah menjadi geek yang mengidolakan cerita-cerita berbasis imajinasi dan khayalan bebas. Novel-novel, komik-komik, dan film-film bertema fiksi ilmiah dan fantasi kerap aku santap karena alasan yang sama dengan mendengar musik: mereka membuat sel-sel otakku lebih hidup dan menghilangkan penat. Namun minat tersebut juga menurun drastis saat hijrah. Cerita-cerita fantasi itu jadi tidak semenggugah sebelumnya.

Ketiga, menurunnya minatku pada hobi menggambar.

Ya, aku pernah hobi menggambar. Hobi sekali, terutama menggambar manusia. Bisa berjam-jam waktu aku habiskan untuk menggambar. Bahkan aku pernah menggambar beberapa portait beraliran realis untuk aku berikan pada gadis-gadis yang aku taksir *uhuk*. Alasanku menggambar lagi-lagi sama dengan mendengar musik dan menikmati cerita fantasi: untuk bergembira dan menghilangkan penat. Namun, lagi-lagi pula, berhijrah telah menurunkan minat menggambarku. Bahkan aku tidak pernah menggambar lagi sekarang.

Semua perubahan itu terjadi secara natural seiring waktu. Begitu saja.

Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa perubahan-perubahan itu bisa terjadi???

Itu pertanyaan bagus. Ada alasan logis di baliknya.

Bila diperhatikan, ada seutas benang merah pada minatku terhadap 3 hal di atas. Baik musik, cerita fantasi, maupun menggambar, ketiganya adalah aktivitas yang begitu mengedepankan khayalan dan imajinasi bebas dari para penikmatnya. Mereka adalah hasil kreasi tanpa aturan yang mengikat.

Sementara itu, Islam adalah tentang realita --tentang kenyataan. Agama ini mengajarkan kita untuk menghadapi kenyataan-kenyataan paling pahit sekalipun dengan gagah berani. Bukan justru lari darinya, seperti dengan cara berkhayal dan berimajinasi bebas. Ugh! Pasalnya, dalam ilmu psikologi, berkhayal tanpa arah merupakan salah satu jenis “emotion focused-coping”, alias cara menyelesaikan masalah dengan cara berpura-pura masalah itu tidak pernah ada. Mudahnya, seperti lari dari kenyataan.

Nah, ketika kamu berhijrah, perlahan kamu akan mendapat kemampuan untuk menghadapi kenyataan dengan cara-cara yang lebih bertanggung jawab. Yang memang memiliki jalan keluar. Maka itulah, kebiasaanmu yang identik dengan lari dari kenyataan –seperti berimajinasi bebas tadi-- akan ditinggalkan dengan sendirinya. Mereka sudah satu paket.

Mungkin kamu akan bertanya lagi: bila konsekuensi hijrah adalah hilangnya minatmu pada segala sesuatu yang berbau khayalan dan imajinasi bebas, apakah hidup bakal terasa membosankan?

Ha, prasangka itu memang mungkin muncul.

Namun percayalah, di sini lah letak keindahan Islam. Di saat pikiranmu sedang berkelana tak tentu arah seperti musafir yang tidak membawa peta, Islam turun menjadi peta itu. Ia akan meluruskan arahmu dan memantapkan langkahmu, yang bila kamu titi dengan sabar, kedamaian hati akan kamu rengkuh.

Pikirkan, apalagi hadiah yang lebih manis dari kedamaian hati di tengah kehidupan yang penuh cela dan tidak sempurna ini?

Hanya Islam yang memberi kekuatan seperti ini. Maka itu, yuk berhijrah.

- Khalid -
Idolaku

Idolaku


Idolaku | www.shareislam.id
Butuh waktu hampir seumur hidupku untuk menyadari satu hal : bahwa tidak ada yang lebih layak menjadi idola nomor wahidku selain baginda Rasulullah Saw.

Aku sedikit menyesalinya. Pasalnya, ketika belum mengenal beliau, aku kerap merasa kekurangan.

Aku melihat sekelilingku dan meratap pilu.

Mengapa orang lain selalu memiliki apa yang tidak kumiliki?

Mengapa orang lain selalu selangkah lebih maju dari diriku?

Mengapa orang lain terlihat lebih independen dariku?

Melihat mereka, tak ayal, rasa iri dan kedengkian merundung diriku. Aku merasa tertinggal dan langkahku berat. Aku tak pernah merasa tenang.

Aku membenci diriku dan sering berandai bisa dilahirkan sebagai manusia yang berbeda. Manusia yang lebih mapan, lebih tampan, lebih pintar, lebih disukai, dan kelebihan lain yang bisa membuatku terlihat lebih mulia. Walau aku sadar, semua itu hanyalah angan kosong, yang hanya membuatku semakin bersedih.

Namun kemudian, aku mulai meniti rekam jejak sang baginda. Ku baca untaian kata-kata dari para cendekia yang menuturkan kisahnya.

Seketika, aku tertegun. Aku menunduk. Merasa berdosa.

Di dunia ini, mungkin tidak ada satu orang pun yang pernah kehilangan sebanyak baginda Rasulullah SAW.

Beliau telah kehilangan SEMUANYA.

Coba kamu sebutkan. Tenaga, waktu, ketenaran di mata kaum Quraisy, harta, rasa aman, dan nyaris pula jiwanya. Berkali-kali. Semua telah dikorbankannya demi memperjuangkan satu hal : tauhid.

Tauhid bukanlah kekayaan, kerupawanan, ketenaran, kepintaran, atau apa pun yang bisa membuat seseorang manusia tampak mulia di mata manusia lainnya. Ia hanyalah suatu keyakinan yang tidak kasat mata, tetapi melekat kuat di relung hati Baginda. Namun, hanya dengan itu, sang baginda rela mengorbankan segalanya.

Kota Tha’if menjadi saksi bisu pengorbanan baginda. Saat itu, beliau hanya berdua dengan salah satu sahabatnya, Zaid bin Haritsah. Beliau lalu menuturkan ide ketauhidan kepada penduduk Tha’if, yang ternyata dibalas dengan cemooh kasar dan lemparan-lemparan batu.

Baginda pun melarikan diri dari Tha’if dengan keadaan minimum. Beliau sangat lelah, berduka, dan sekujur tubuh penuh luka. Aku geram. Itukah yang didapatnya setelah sekian lama memperjuangkan tauhid? Sangat tidak adil, batinku.

Nampaknya, malaikat Jibril pun beropini demikian. Pasalnya, setelah itu sang malaikat turun mendatangi baginda. Dia memberi kabar dari Allah SWT. Kabar yang berisi izin kepada baginda untik menimpakan dua gunung terbesar di Mekkah kepada penduduk tha’if yang telah menorehkan luka di hati dan tubuhnya. Supaya mereka mati dan tahu rasa. Aku pun mengangguk setuju.

Namun, apa jawaban beliau?

“Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang berucap kalimat ‘tiada tuhan selain Allah’dari rahim mereka.” (The Great Story of Muhammad, hal 178)

Aku merinding. Beliau telah kehilangan banyak hal, tetapi ia tidak kehilangan nuraninya..

Jadi, bagaimana mungkin aku masih merasa kekurangan? Sementara pernah ada seseorang yang telah kehilangan segalanya. Namun ia tak pernah merasa kekurangan. Tauhid selalu mencukupinya dan prasangka baik selalu menenangkannya. Dan ia adalah manusia termulia yang pernah ada.

Tak ayal, baginda Rasulullah SAW langsung menjadi idolaku. Dan selayaknya jadi idola siapapun. Demi ketenangan hatimu.

- Khalid -
Guru yang Tidak Piawai atau Murid yang Sombong?

Guru yang Tidak Piawai atau Murid yang Sombong?

Guru yang Tidak Piawai atau Murid yang Sombong?

Pernahkah ikut majelis ilmu, tetapi kamu sulit mengerti apa yang disampaikan oleh si pengajar? Lalu kamu kesal karenanya? Aku pernah.

Beberapa tahun yang lalu, masjid dekat rumahku kerap memanggil seorang ustadz yang satu ini. Baik ketika Ramadhan maupun hari-hari biasa. Dia spesialis di bidang ilmu tafsir dan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sepertinya, beliau adalah favorit masjid ini. Soalnya dia punya jadwal tetap mingguan.

Sayangnya, aku tidak pernah menyukainya. Bukan karena tabiatnya menyebalkan. Bukan. Namun, karena aku tidak pernah mengerti isi ceramahnya.

Ceramah oleh ustadz lain biasanya lebih mudah aku serap. Namun, tidak untuk ustadz yang satu ini. Menurutku, dia bertutur kata terlalu cepat, sehingga maknanya sulit aku tangkap. Intonasinya juga kadang terlalu berapi-api, seakan sedang memarahi para hadirin. Dan aku sama sekali tidak suka itu.

Alih-alih mendapat ilmu, aku justru kesal padanya. Aku dengar dia lulusan S3 luar negeri, tetapi kok cara mengajarnya payah sekali? Paling hanya 5% dari ceramahnya yang bisa aku mengerti.

Yang lebih mengherankan, mengapa dia paling sering dipanggil ke masjid ini? Padahal banyak yang lebih baik. Aku pun semakin kesal, tetapi ku pendam saja. Soalnya, beliau adalah salah satu penceramah favorit bapakku.

Lalu, waktu pun bergulir. Aku belajar lebih banyak hal sejaknya.

Tahun lalu, aku diajak ke masjid oleh bapak untuk shalat maghrib. Bapak bersemangat karena ustadz-yang-aku-kesal-padanya itu akan memberikan ceramah. Ternyata beliau masih sering di undang ke masjid. Kalau tidak salah, waktu ceramahnya adalah ba’da maghrib. Aku pun menuruti ajakan bapak. Meski pernah kesal pada si ustadz, aku coba menetralkan perasaan. Niatku adalah menuntut ilmu.

Waktu itu, Si ustadz-yang-aku-kesal-padanya biasa berceramah dengan menggunakan notebook dan LCD projector. Metode yang cukup unik, karena di masjid ini cuma dia yang memakainya. Ada sih yang lebih unik. Namun lain kali saja ku ceritakan.

Singkat cerita, Si ustadz-yang-aku-kesal-padanya pun memulai ceramahnya.

Kawan, di luar dugaan, kali ini aku mengerti isi ceramahnya! kata-katanyasatu per satu masuk ke dalam kepalaku dengan lancar. Bahkan sebagian di antaranya menggetarkan hatiku. Membuat bulu kuduk berdiri. Kata-katanya seakan beresonansi dengan apa yang telah aku pelajari beberapa tahun terakhir.

Aku tertegun. Aku bisa mendapat pemahaman dari orang yang pernah aku kesali, aku sinisi, dan aku cela cara mengajarnya beberapa tahun lalu. Siapa sangka?

Dari sini, aku dapat sebuah pelajaran berharga. Saat aku merasa kesulitan menerima sebuah ilmu, aku malah congkak. Yang ku lakukan justru mencari kesalahan si pengajar. Mencela cara mengajarnya, bahkan gesturnya. Konyol sekali. Padahal, faktanya aku memang masih bodoh. Ilmuku belum sampai sana. Sesederhana itu.

Mungkin bisa menjadi nasehat bagimu. Jangan sampai egomu menghalangi naluri belajarmu. Senantiasa merendah dalam belajar. Kalau belum paham, mungkin usahamu yang perlu diperkeras.

- Khalid -

Thursday, 8 June 2017

8 Tips Menanamkan Al Qur'an di Hati Anak saat bulan Ramadhan

8 Tips Menanamkan Al Qur'an di Hati Anak saat bulan Ramadhan

Alquran adalah firman Allah. Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi setiap orang tua Muslim untuk menyaksikan anak-anak mereka mencintai Alquran.

Mencintai Al-Qur'an bukanlah hanya sebatas menghafal ayat tertentu ketika diperintahkan untuk melakukannya. Ketika seorang anak mencintai Al-Qur'an, ia merasakan dorongan untuk membaca ayat sepanjang hari, mengerti apa yang dia ucapkan, dan tertarik pada segala sesuatu yang berhubungan dengan Alquran. Anak-anak didominasi oleh lingkungan sekitar dan pengasuh utama mereka. Jadi, peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mengembangkan ikatan yang kuat dan penuh kasih dengan Alquran.

Berikut adalah delapan tips untuk membantu Anda menanamkan cinta Quran di hati anak Anda:

1. Buatlah doa (permohonan).

Do'a adalah senjata terkuat dari orang beriman, terutama untuk orang tua kepada anak-anaknya. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan izin Allah, dan Allah dapat membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Untuk membuat doa, Anda harus terlebih dahulu menyucikan niat Anda dan ingat bahwa segala sesuatu yang baik yang Anda lakukan atau yang harus dilakukan harus selalu dilakukan demi Allah. Ingatkan diri Anda akan kebajikan al-Qur'an agar tetap termotivasi.

 "Inilah Kitab yang tidak ada keraguannya, sebuah panduan bagi mereka yang sadar akan Allah." (QS Al Baqarah 2: 2)

Jangan lupa bahwa sebagai orang tua, adalah tugas Anda untuk menjaga anak-anak Anda dan memastikan mereka melakukan apa yang berkenan kepada Allah.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (Surah At-Tahrim 66: 6)

2. Anak-anak Anda harus sering mendengarkan Alquran.

Mulai bahkan sebelum anak-anak Anda lahir; Saat Anda masih hamil Saat merawat rumah, memasak, atau sekadar bersantai, bacalah al Quran sebanyak yang Anda bisa. Biarkan Alquran menenangkan bayi saat mereka merasa cemas atau menangis. Seiring pertumbuhan anak-anak Anda, teruskan perdengarkan audio bacaan Al-Qur'an di sekitar mereka beberapa menit sekali. Hal ini sangat penting bagi anak-anak untuk mengenal Alquran karena hal ini pada akhirnya akan memudahkan mereka untuk membaca dan bahkan menghafal InsyaAllah. Anda tidak perlu duduk anak-anak Anda berjam-jam karena mereka memiliki rentang perhatian yang jauh lebih pendek. Jangan membatasi bacaan dengan hanya Juz 'Amma karena fokus di sini adalah untuk membiasakan mereka dengan Alquran, tidak menghafal.

3. Pergi ke makna ayat / bab.

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. ." (Surah Sad 38:29)

Selain mendengarkan Alquran setiap hari, cobalah membahas arti ayat / surah. Jangan terlalu membebani mereka dengan terlalu banyak detail. Hanya memberitahu mereka cukup untuk menarik perhatian dan minat mereka. Gaya penyampaian Anda harus sesuai usia agar anak Anda mengerti dan mengikutinya dengan mudah.

4. Bagikan kisah indah Alquran.

 "Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu (Kami mewahyukan) termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Surah Yusuf 12: 3)

Allah menceritakan beberapa cerita dalam Al Qur'an, dan setiap cerita disertai pelajaran dan / atau inspirasi. Anda bisa berbagi cerita ini dengan anak-anak Anda dengan membaca buku anak-anak atau dengan menonton video kartun Islam yang terkait dengan topik ini. Berbagi cerita dari Al Qur'an membantu anak-anak memvisualisasikan Alquran sedikit lebih dan meningkatkan pemahaman mereka.

5. Tenang dan dorong mereka.

Tenanglah pada anak-anak Anda dan jangan memaksakan mereka untuk melakukan terlalu banyak sekaligus. Jangan sampai mendengarkan al Qur'an menjadi sebuah tugas. Konsisten, tapi beberapa menit pada satu waktu adalah semua yang Anda butuhkan untuk menarik perhatian anak-anak Anda. Akhirnya, mereka bahkan mungkin ingin mendengarkan / membaca untuk waktu yang lebih lama. Juga, cintai dan hindari hukuman karena hukuman bisa membuat anak-anak Anda memiliki semacam kebencian terhadap Alquran atau mungkin akan membuat mereka cukup takut untuk mendengarkan Al Qur'an saat Anda berada di sekitar atau karena Anda mengatakannya. Ingat, tujuannya adalah agar mereka mencintai Al Qur'an, tidak hanya mendengarkannya untuk menyenangkan hati Anda. Semakin banyak cinta yang mereka miliki untuk Alquran, maka mereka akan semakin mengingat Allah.

 "Orang-orang yg telah beriman & hati mereka jadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat) Allah maka hati akan menjadi tenteram." (Surah Ar-Ra'd 13:28)

Secara verbal dorong anak-anak Anda setiap kali mereka mendengarkan / membaca Al Qur'an. Senyum, biarkan mereka tahu seberapa baik Anda berpikir tentang apa yang mereka lakukan, dan betapa bangganya Anda dengan mereka. Cobalah untuk tidak membuat mereka terbiasa dengan hadiah nyata. Jika Anda mendapatkan mereka hadiah, membuatnya langka dan spontan. Anda tidak ingin anak-anak Anda membuat hubungan antara membaca Al Qur'an dan penghargaan instan dan nyata. Melainkan, biasakan untuk menjelaskan kepada mereka kebajikan al-Qur'an seperti penyembuhan dan perbuatan baik.

"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..." (Surah Al Isra' 17:82)

6. Melakukan kegiatan-kegiatan keluarga dan bermain game.

Lakukan kegiatan bersama seluruh keluarga dan datanglah dengan permainan yang sesuai berdasarkan fakta dari Al Qur'an. Contohnya adalah melakukan kuis dan menyiapkan tim yang berbeda untuk saling bertanding dengan cara yang kompetitif namun penuh kasih dan menyenangkan. Contoh lainnya adalah melakukan kegiatan yang mengharuskan setiap orang untuk berpartisipasi dengan melakukan penelitian dan melakukan kerajinan kreatif.

7. Dorong mereka untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari.

"Diriwayatkan oleh Utsman (ra dengan dia); Nabi (saw) berkata: "Yang terbaik di antara kamu (Muslim) adalah mereka yang belajar Alquran dan mengajarkannya." 1

Seiring meningkatnya pengetahuan anak-anak Anda tentang Alquran, biarkan mereka membagikannya kepada Anda. Juga, buat mereka cukup nyaman untuk mengoreksi Anda saat Anda membuat kesalahan dalam pembacaan Anda. Anda ingin mereka menjadi yang terbaik dengan mengajarkan apa yang telah mereka pelajari.

8. Perlihatkan dengan contoh.

Sederhananya, tindakan lebih keras daripada kata-kata. Anak-anak belajar lebih baik saat mereka melihat contoh, bukan saat mereka disuruh melakukannya. Dengarkan dan bacalah Alquran setiap hari; Bahkan untuk beberapa menit sekaligus. Tunjukkan pada anak-anak Anda pentingnya Alquran dan betapa Anda mencintai Alquran akan mendorong mereka untuk mengikuti jejak Anda diShaa Allah.

"Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. " (Surah At-Tur 52:21)

Pada akhir hari, yang bisa Anda lakukan hanyalah mencoba yang terbaik dan mempercayai Allah. Hasil pada segala hal terserah kepada Allah saja. Kita semua ingin dipertemukan kembali dengan anak-anak kita di Jannah, jadi ayo kita berusaha untuk berbuat baik dan bantu mereka melakukan hal yang sama InsyaAllah.

Tuesday, 6 June 2017

Enam Cara Mudah untuk Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadan

Enam Cara Mudah untuk Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadan



Dengan tanggung jawab kita yang tak terhitung jumlahnya dan tuntutan hidup sehari-hari yang tak pernah berakhir, banyak dari kita berjuang untuk menemukan waktu untuk mencapai tujuan kita di bulan Ramadhan. Kami merasa kewalahan dan kurangnya waktu yang membuat kami kecewa pada akhir setiap hari. Meskipun demikian, konsep yang sederhana namun mendalam memiliki potensi untuk mengubah Ramadhan dan seluruh kehidupan di sekitar kita!

Ramadan adalah bulan penuh Barakah. Tapi apa itu Barakah? Ini bukan tentang memiliki lebih banyak, melainkan kemampuan untuk berbuat lebih banyak dengan kekurangan yang Anda miliki. Barakah adalah Allah yang memberi kita berkat yang sangat besar dalam apa yang kita miliki, memberikan kepada kita peningkatan eksponensial di zaman kita. Menghasilkan hasil yang luar biasa dengan usaha minimalis; Itulah esensi dari Barakah! Dan apa waktu yang lebih baik untuk mulai menerapkan konsep transformasi hidup ini daripada di bulan Ramadan, bulan yang penuh Barakah dan bulan dimana buku yang sangat di berkati diturunkan. Dan dibawah ini adalah enam cara mudah untuk memaksimalkan amalan di bulan Ramadan


1) Maksimalkan Niat Anda

    Dikisahkan 'Umar bin Al-Khattab:

    Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pahala perbuatan bergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan yang dia niatkan ..." 1

Ini adalah rumus rahasia yang dengannya Allah akan memperbesar pahala kita di luar imajinasi! Pikirkan dua orang yang melakukan wudhu ': seseorang melakukannya dengan tujuan berdoa, sementara yang lain menambahkan bahwa niat untuk membersihkan dirinya dari setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya, semakin dekat dengan Allah dengan menyucikan dirinya baik secara fisik maupun spiritual Seperti melakukan sunnah yang dicintai. Manakah dari kedua orang ini yang akan menerima pahala berlimpah? Tanpa diragukan lagi, orang yang memiliki banyak niat untuk satu tindakan tunggal ini. Pahala berlimpah menunggu orang semacam itu karena kekuatan dan besarnya niat

Kita harus menghidupkan kembali ajaran indah ini selama bulan Ramadan untuk mendapatkan Barakah yang lebih besar dalam tindakan kita. Apakah Anda sedang membaca Alquran atau memasak iftar di dapur; Pastikan untuk memaksimalkan niat Anda, karena setiap perbuatan yang tampaknya kecil membawa pahala.

2) Baca Alquran

    "Dan ini [Alquran] adalah sebuah Kitab yang telah kita nyatakan [yang] diberkati, maka ikutilah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu menerima rahmat." 2

Allah menggambarkan Alquran sebagai diberkati, dan ini adalah fakta bahwa setiap pembaca akan bersaksi. Saya sendiri pernah mengalami hal ini sendiri, semakin saya melafalkan Alquran, semakin banyak barakah yang ada di waktuku, semakin banyak yang bisa saya capai dengan jam yang sama seperti yang saya alami setiap hari. Berapa banyak dari kita yang menginginkan waktu ekstra di siang hari untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai? Dengan buku yang diberkati ini, Anda tidak akan membutuhkannya.

Ramadan adalah bulan Alquran, dimana pembacaan harian kita meningkat dan di mana kita merenungkan dan merenungkan kata-kata Allah. Cukup membaca beberapa halaman lagi akan memberi Anda keuntungan yang tak terbayangkan di waktu Anda dan kebaikan yang tak terhitung banyaknya untuk setiap surat yang Anda ucapkan, dan itu akan membuat Anda memiliki hati yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan.

3) Memanfaatkan Jam Pagi

    Dikisahkan oleh Sakhr al-Ghamidi:

    Nabi ﷺ berkata: "Ya Allah, berkatilah kaumku di pagi hari mereka."

Pagi hari setelah fajar merupakan harta bagi setiap manusia. Jam-jam ini sangat diberkati oleh Allah dan orang-orang yang tidak memanfaatkannya memang sangat rugi. Pada saat-saat bahagia inilah seseorang bisa memiliki kejernihan pikiran, jauh dari semua gangguan, di mana mereka mampu menyelesaikan sejumlah tugas yang seharusnya bisa diambil sepanjang hari. Ini adalah aspek fundamental dari produktivitas yang diminta oleh semua ahli; Inilah jam emas yang tidak bisa kami tinggalkan. Apakah Anda seorang siswa dengan banyak ujian, seorang ibu muda dengan anak kecil yang menghabiskan sebagian besar waktu dan energi Anda, atau seorang Muslim yang berusaha untuk menghafal sebuah surah baru, inilah saat yang tepat bagi Anda untuk mulai bekerja, Mencobanya dan perhatikan bagaimana hari Anda berkembang!

4) Kurangi Penggunaan Handphone

Menghabiskan waktu berharga kami untuk hal-hal kecil seperti update status pada media sosial seharusnya menjadi hal terakhir yang ada dalam pikiran kita selama bulan Ramadhan. Cobalah untuk menjadikannya Ramadan bebas handphone, kecuali untuk memeriksa pesan penting dan pos bermanfaat, sehingga membuat waktu untuk kebangkitan kembali hati Anda dan pemurnian jiwamu dengan sedikit gangguan.

Kami mengklaim hanya menghabiskan lima menit untuk perangkat kami, tapi tidak hanya lima menit saja. Waktu kita adalah pemberian dari Allah, sebuah karunia yang akan kita pertanggung jawabkan, dan setiap saat berlalu adalah salah satu yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan kembali. Anda akan tercengang dengan waktu yang akan dibebaskan untuk Anda dengan sedikit teknologi; Anda akan menemukan barakah yang lebih besar di dalamnya, sehingga kesempatan untuk meningkatkan pengaruh Anda dalam berbuat baik meningkat.

5) Manfaatkan Waktu Luang Anda

Seseorang harus sadar akan tugas sehari-hari mereka untuk dapat memanfaatkan waktu luang selama hari mereka. Jika Anda seorang siswa yang pulang pergi maka Anda bisa menghabiskan beberapa menit ekstra Anda harus membaca Alquran, atau jika Anda sedang menunggu makanan dimasak, Anda dapat memanfaatkan menit penundaan zikir dan istighfar dimana hadiah Anda Akan terus meningkat. Kita harus melatih lidah kita untuk terus mengingat Allah selama jam-jam puasa agar tidak menjadi orang-orang yang kurang hati. Isi selang waktu Anda dengan tindakan sunnah yang secara inheren ditelan oleh Barakah yang sangat besar: Mulailah setiap tindakan dengan bismillah, jadilah konsisten dengan adhkar pagi dan sore, ucapkan terima kasih kepada Allah dan Dia akan meningkatkan Anda, inilah semua cara untuk secara signifikan memperbesar Barakah di Harimu, perbuatan sederhana namun menjanjikan ganjaran penghargaan!

6) Berdoa di Waktu Mustajab

Terutama selama bulan Ramadhan, lidah kita harus menjadi lembab dengan dzikir dan doa ', dan walaupun kita harus selalu melakukan doa setiap siang, ada jam-jam tertentu yang tidak dapat dilewatkan. Ini termasuk:

  •     Sepertiga terakhir malam itu,
  •     Antara adzan dan iqama,
  •     Sebelum berbuka puasa,
  •     Dalam sujood

Waktu ini adalah berkat yang tak terbatas, di mana Allah berjanji untuk menjawab doa doa kita, jadi bagaimana kita bisa meninggalkan mereka dan malah menyibukkan diri dengan hal-hal sepele dan tidak penting?

Sumber utama barakah dalam hidup kita adalah Allah, karenanya, kita harus terus-menerus membuat doa untuk barakah di zaman dan perbuatan kita. Doa berikut meminta Allah untuk melakukan apa yang telah kita berikan; Ini adalah bagian dari Dua Qunoot yang terkenal dan yang indah untuk memohon kepada Allah dengan:

{وبارك لي فيما أعطيت}

"Wa baarik lee feemaa 'a'atayta"

"Dan berkatilah aku dalam apa yang telah Engkau anugerahkan"

Titik untuk Refleksi

Imam Al-Bukhari, Muhaddith yang agung, telah hafal dan mengumpulkan lebih dari 600.000 hadits di Saheeh-nya. Imam an-Nawawi, seorang sarjana besar lainnya, mulai mencari pengetahuan pada usia 19 (yang dianggap cukup terlambat), dan dia meninggal dunia pada usia 40. Namun, dalam rentang waktu singkat ini dia dapat meninggalkan seorang Buku warisan dan inspirasional yang luar biasa yang dirujuk sampai hari ini. Darimana mereka mendapatkan waktu untuk mencapai hal-hal ini, Anda mungkin bertanya-tanya? Pasti itu Barakah!

Bulan Ramadhan yang diberkati diliputi oleh kebajikan dan berkat yang luar biasa, inilah bulan dimana setiap ras jiwa mencapai belas kasihan dan pengampunan oleh Allah. Di dalamnya, hati telah diperbaiki, jiwa dibersihkan dan pikiran dimurnikan oleh rahmat Allah. Gagasan yang digariskan dalam artikel ini sangat sederhana namun sangat berdampak jika kita menerapkannya secara konsisten. Mari mendedikasikan waktu Ramadhan ini untuk memperkuat ikatan dengan Pencipta kita dan memanjat tangga pertumbuhan spiritual!

Semoga Allah mengizinkan kita untuk menyaksikan bulan yang telah lama dinanti ini dan menghujani kita belas kasih dan pengampunan-Nya yang tak terbatas! Ameen.

Referensi : islamiconlineuniversity
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Thursday, 13 July 2017

Berhijrah

Berhijrah


Aku rasa setiap muslim --terutama yang sudah akil bhaliq-- pasti pernah, sedang, atau InshaAllah akan melalui sebuah fase dalam hidup yang dinamakan “hijrah”.

Hijrah aku artikan sebagai sebuah proses menjadi seorang muslim yang lebih baik. Namun, dalam artikel ini, arti hijrah aku fokuskan pada masa peralihan seorang muslim yang menganggap agamanya sebagai 'asesoris' belaka menjadi seorang muslim yang menganggap agamanya sebagai jalan hidup mereka.

Atau --dengan bahasa yang sedang viral-- hijrah adalah proses di mana seorang muslim yang agamanya sekedar warisan berubah menjadi muslim yang agamanya adalah pilihan hatinya.

Berhijrah adalah keniscayaan bagi semua muslim yang memang serius ingin mendalami agamanya. Dan itu patut kita sadari karena tidak ada orang yang seketika menjadi alim sejak lahir. Bahkan tidak untuk nama-nama besar seperti Adi Hidayat, Khalid Basalamah, Felix Shiauw, Reza Syafi Basalamah, Aa Gym, dan Zainudin MZ sekalipun. Pasti semuanya pernah melewati fase hijrah.

Kalau kamu mengenal Nouman Ali Khan, mungkin kamu akan terkejut dengan masa mudanya. Nouman ternyata pernah menghabiskan masa remajanya untuk hura-hura, bahkan secara terang-terangan membenci komunitas Islam dan segala macam perilakunya. Bahkan beliau lupa berapa jumlah rakaat shalat Maghrib. Padahal beliau terlahir dalam keluarga muslim.

Namun atas izin Allah, pemuda asal Pakistan itu tergerak untuk mempelajari Al-Quran dan tumbuh besar menjadi seorang da’i. Beliau adalah inspirator lahirnya page “khalid” ini dan –menurutku-- salah satu da’i terbaik bagi generasi milenial.

***

Bila berkaca pada pengalamanku sendiri, hijrah memang sebuah fase yang spesial dan penuh perubahan. Umpama metamorfosis pada ulat, hijrah adalah kepompong yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Meskipun, tentu saja, hijrah tidak benar-benar mengubah tampilan fisik seseorang layaknya metamorfosis, tetapi sebatas mengubah pola pikir dan perilakunya.

Sebelum berhijrah, seseorang akan cenderung berpikir dan berperilaku bebas. Namun setelah berhijrah, rasa keterikatan pada Islam akan muncul, di mana rasa keterikatan itu perlahan akan menghapus kebiasaan, perilaku, ucapan, hingga minat-minat lamanya yang cenderung semaunya sendiri. Semuanya diganti dengan ketundukan pada aturan Islam.

Nah, bicara tentang minat, aku pribadi merasa bahwa faktor tersebut adalah yang paling terkena dampak dari hijrah. Ada setidaknya tiga minatku yang menurun drastis karena berhijrah.

Pertama, menurunnya minatku pada musik.

Meski bukan musisi, aku pernah jadi pecandu musik. Memasang earphone di telinga dan memutar ratusan lagu dari telepon pintar kerap menjadi ‘pelarian’-ku di kala bosan, senggang, atau sedang galau. Mendengarkan lagu dengan segala lirik manisnya bisa membuat sel-sel otakku lebih hidup dan bergembira. Penatku juga bisa hilang seketika.

Namun, ketika berhijrah, sensasi itu berubah drastis. Mendengar musik terasa ‘kosong’. Nada-nada indah dari sang vokalis dan berbagai instrumen yang dimainkan krunya --yang biasanya begitu mudah menenangkan hatiku—kini seakan diboikot oleh telingaku. Bukan berarti aku jadi benci musik, hanya saja aku jadi tidak menikmatinya seperti dulu.

Kedua, menurunnya minatku pada cerita-cerita fantasi.

Kamu tahu, aku pernah menjadi geek yang mengidolakan cerita-cerita berbasis imajinasi dan khayalan bebas. Novel-novel, komik-komik, dan film-film bertema fiksi ilmiah dan fantasi kerap aku santap karena alasan yang sama dengan mendengar musik: mereka membuat sel-sel otakku lebih hidup dan menghilangkan penat. Namun minat tersebut juga menurun drastis saat hijrah. Cerita-cerita fantasi itu jadi tidak semenggugah sebelumnya.

Ketiga, menurunnya minatku pada hobi menggambar.

Ya, aku pernah hobi menggambar. Hobi sekali, terutama menggambar manusia. Bisa berjam-jam waktu aku habiskan untuk menggambar. Bahkan aku pernah menggambar beberapa portait beraliran realis untuk aku berikan pada gadis-gadis yang aku taksir *uhuk*. Alasanku menggambar lagi-lagi sama dengan mendengar musik dan menikmati cerita fantasi: untuk bergembira dan menghilangkan penat. Namun, lagi-lagi pula, berhijrah telah menurunkan minat menggambarku. Bahkan aku tidak pernah menggambar lagi sekarang.

Semua perubahan itu terjadi secara natural seiring waktu. Begitu saja.

Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa perubahan-perubahan itu bisa terjadi???

Itu pertanyaan bagus. Ada alasan logis di baliknya.

Bila diperhatikan, ada seutas benang merah pada minatku terhadap 3 hal di atas. Baik musik, cerita fantasi, maupun menggambar, ketiganya adalah aktivitas yang begitu mengedepankan khayalan dan imajinasi bebas dari para penikmatnya. Mereka adalah hasil kreasi tanpa aturan yang mengikat.

Sementara itu, Islam adalah tentang realita --tentang kenyataan. Agama ini mengajarkan kita untuk menghadapi kenyataan-kenyataan paling pahit sekalipun dengan gagah berani. Bukan justru lari darinya, seperti dengan cara berkhayal dan berimajinasi bebas. Ugh! Pasalnya, dalam ilmu psikologi, berkhayal tanpa arah merupakan salah satu jenis “emotion focused-coping”, alias cara menyelesaikan masalah dengan cara berpura-pura masalah itu tidak pernah ada. Mudahnya, seperti lari dari kenyataan.

Nah, ketika kamu berhijrah, perlahan kamu akan mendapat kemampuan untuk menghadapi kenyataan dengan cara-cara yang lebih bertanggung jawab. Yang memang memiliki jalan keluar. Maka itulah, kebiasaanmu yang identik dengan lari dari kenyataan –seperti berimajinasi bebas tadi-- akan ditinggalkan dengan sendirinya. Mereka sudah satu paket.

Mungkin kamu akan bertanya lagi: bila konsekuensi hijrah adalah hilangnya minatmu pada segala sesuatu yang berbau khayalan dan imajinasi bebas, apakah hidup bakal terasa membosankan?

Ha, prasangka itu memang mungkin muncul.

Namun percayalah, di sini lah letak keindahan Islam. Di saat pikiranmu sedang berkelana tak tentu arah seperti musafir yang tidak membawa peta, Islam turun menjadi peta itu. Ia akan meluruskan arahmu dan memantapkan langkahmu, yang bila kamu titi dengan sabar, kedamaian hati akan kamu rengkuh.

Pikirkan, apalagi hadiah yang lebih manis dari kedamaian hati di tengah kehidupan yang penuh cela dan tidak sempurna ini?

Hanya Islam yang memberi kekuatan seperti ini. Maka itu, yuk berhijrah.

- Khalid -
Idolaku

Idolaku


Idolaku | www.shareislam.id
Butuh waktu hampir seumur hidupku untuk menyadari satu hal : bahwa tidak ada yang lebih layak menjadi idola nomor wahidku selain baginda Rasulullah Saw.

Aku sedikit menyesalinya. Pasalnya, ketika belum mengenal beliau, aku kerap merasa kekurangan.

Aku melihat sekelilingku dan meratap pilu.

Mengapa orang lain selalu memiliki apa yang tidak kumiliki?

Mengapa orang lain selalu selangkah lebih maju dari diriku?

Mengapa orang lain terlihat lebih independen dariku?

Melihat mereka, tak ayal, rasa iri dan kedengkian merundung diriku. Aku merasa tertinggal dan langkahku berat. Aku tak pernah merasa tenang.

Aku membenci diriku dan sering berandai bisa dilahirkan sebagai manusia yang berbeda. Manusia yang lebih mapan, lebih tampan, lebih pintar, lebih disukai, dan kelebihan lain yang bisa membuatku terlihat lebih mulia. Walau aku sadar, semua itu hanyalah angan kosong, yang hanya membuatku semakin bersedih.

Namun kemudian, aku mulai meniti rekam jejak sang baginda. Ku baca untaian kata-kata dari para cendekia yang menuturkan kisahnya.

Seketika, aku tertegun. Aku menunduk. Merasa berdosa.

Di dunia ini, mungkin tidak ada satu orang pun yang pernah kehilangan sebanyak baginda Rasulullah SAW.

Beliau telah kehilangan SEMUANYA.

Coba kamu sebutkan. Tenaga, waktu, ketenaran di mata kaum Quraisy, harta, rasa aman, dan nyaris pula jiwanya. Berkali-kali. Semua telah dikorbankannya demi memperjuangkan satu hal : tauhid.

Tauhid bukanlah kekayaan, kerupawanan, ketenaran, kepintaran, atau apa pun yang bisa membuat seseorang manusia tampak mulia di mata manusia lainnya. Ia hanyalah suatu keyakinan yang tidak kasat mata, tetapi melekat kuat di relung hati Baginda. Namun, hanya dengan itu, sang baginda rela mengorbankan segalanya.

Kota Tha’if menjadi saksi bisu pengorbanan baginda. Saat itu, beliau hanya berdua dengan salah satu sahabatnya, Zaid bin Haritsah. Beliau lalu menuturkan ide ketauhidan kepada penduduk Tha’if, yang ternyata dibalas dengan cemooh kasar dan lemparan-lemparan batu.

Baginda pun melarikan diri dari Tha’if dengan keadaan minimum. Beliau sangat lelah, berduka, dan sekujur tubuh penuh luka. Aku geram. Itukah yang didapatnya setelah sekian lama memperjuangkan tauhid? Sangat tidak adil, batinku.

Nampaknya, malaikat Jibril pun beropini demikian. Pasalnya, setelah itu sang malaikat turun mendatangi baginda. Dia memberi kabar dari Allah SWT. Kabar yang berisi izin kepada baginda untik menimpakan dua gunung terbesar di Mekkah kepada penduduk tha’if yang telah menorehkan luka di hati dan tubuhnya. Supaya mereka mati dan tahu rasa. Aku pun mengangguk setuju.

Namun, apa jawaban beliau?

“Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang berucap kalimat ‘tiada tuhan selain Allah’dari rahim mereka.” (The Great Story of Muhammad, hal 178)

Aku merinding. Beliau telah kehilangan banyak hal, tetapi ia tidak kehilangan nuraninya..

Jadi, bagaimana mungkin aku masih merasa kekurangan? Sementara pernah ada seseorang yang telah kehilangan segalanya. Namun ia tak pernah merasa kekurangan. Tauhid selalu mencukupinya dan prasangka baik selalu menenangkannya. Dan ia adalah manusia termulia yang pernah ada.

Tak ayal, baginda Rasulullah SAW langsung menjadi idolaku. Dan selayaknya jadi idola siapapun. Demi ketenangan hatimu.

- Khalid -
Guru yang Tidak Piawai atau Murid yang Sombong?

Guru yang Tidak Piawai atau Murid yang Sombong?

Guru yang Tidak Piawai atau Murid yang Sombong?

Pernahkah ikut majelis ilmu, tetapi kamu sulit mengerti apa yang disampaikan oleh si pengajar? Lalu kamu kesal karenanya? Aku pernah.

Beberapa tahun yang lalu, masjid dekat rumahku kerap memanggil seorang ustadz yang satu ini. Baik ketika Ramadhan maupun hari-hari biasa. Dia spesialis di bidang ilmu tafsir dan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sepertinya, beliau adalah favorit masjid ini. Soalnya dia punya jadwal tetap mingguan.

Sayangnya, aku tidak pernah menyukainya. Bukan karena tabiatnya menyebalkan. Bukan. Namun, karena aku tidak pernah mengerti isi ceramahnya.

Ceramah oleh ustadz lain biasanya lebih mudah aku serap. Namun, tidak untuk ustadz yang satu ini. Menurutku, dia bertutur kata terlalu cepat, sehingga maknanya sulit aku tangkap. Intonasinya juga kadang terlalu berapi-api, seakan sedang memarahi para hadirin. Dan aku sama sekali tidak suka itu.

Alih-alih mendapat ilmu, aku justru kesal padanya. Aku dengar dia lulusan S3 luar negeri, tetapi kok cara mengajarnya payah sekali? Paling hanya 5% dari ceramahnya yang bisa aku mengerti.

Yang lebih mengherankan, mengapa dia paling sering dipanggil ke masjid ini? Padahal banyak yang lebih baik. Aku pun semakin kesal, tetapi ku pendam saja. Soalnya, beliau adalah salah satu penceramah favorit bapakku.

Lalu, waktu pun bergulir. Aku belajar lebih banyak hal sejaknya.

Tahun lalu, aku diajak ke masjid oleh bapak untuk shalat maghrib. Bapak bersemangat karena ustadz-yang-aku-kesal-padanya itu akan memberikan ceramah. Ternyata beliau masih sering di undang ke masjid. Kalau tidak salah, waktu ceramahnya adalah ba’da maghrib. Aku pun menuruti ajakan bapak. Meski pernah kesal pada si ustadz, aku coba menetralkan perasaan. Niatku adalah menuntut ilmu.

Waktu itu, Si ustadz-yang-aku-kesal-padanya biasa berceramah dengan menggunakan notebook dan LCD projector. Metode yang cukup unik, karena di masjid ini cuma dia yang memakainya. Ada sih yang lebih unik. Namun lain kali saja ku ceritakan.

Singkat cerita, Si ustadz-yang-aku-kesal-padanya pun memulai ceramahnya.

Kawan, di luar dugaan, kali ini aku mengerti isi ceramahnya! kata-katanyasatu per satu masuk ke dalam kepalaku dengan lancar. Bahkan sebagian di antaranya menggetarkan hatiku. Membuat bulu kuduk berdiri. Kata-katanya seakan beresonansi dengan apa yang telah aku pelajari beberapa tahun terakhir.

Aku tertegun. Aku bisa mendapat pemahaman dari orang yang pernah aku kesali, aku sinisi, dan aku cela cara mengajarnya beberapa tahun lalu. Siapa sangka?

Dari sini, aku dapat sebuah pelajaran berharga. Saat aku merasa kesulitan menerima sebuah ilmu, aku malah congkak. Yang ku lakukan justru mencari kesalahan si pengajar. Mencela cara mengajarnya, bahkan gesturnya. Konyol sekali. Padahal, faktanya aku memang masih bodoh. Ilmuku belum sampai sana. Sesederhana itu.

Mungkin bisa menjadi nasehat bagimu. Jangan sampai egomu menghalangi naluri belajarmu. Senantiasa merendah dalam belajar. Kalau belum paham, mungkin usahamu yang perlu diperkeras.

- Khalid -

Thursday, 8 June 2017

8 Tips Menanamkan Al Qur'an di Hati Anak saat bulan Ramadhan

8 Tips Menanamkan Al Qur'an di Hati Anak saat bulan Ramadhan

Alquran adalah firman Allah. Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi setiap orang tua Muslim untuk menyaksikan anak-anak mereka mencintai Alquran.

Mencintai Al-Qur'an bukanlah hanya sebatas menghafal ayat tertentu ketika diperintahkan untuk melakukannya. Ketika seorang anak mencintai Al-Qur'an, ia merasakan dorongan untuk membaca ayat sepanjang hari, mengerti apa yang dia ucapkan, dan tertarik pada segala sesuatu yang berhubungan dengan Alquran. Anak-anak didominasi oleh lingkungan sekitar dan pengasuh utama mereka. Jadi, peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mengembangkan ikatan yang kuat dan penuh kasih dengan Alquran.

Berikut adalah delapan tips untuk membantu Anda menanamkan cinta Quran di hati anak Anda:

1. Buatlah doa (permohonan).

Do'a adalah senjata terkuat dari orang beriman, terutama untuk orang tua kepada anak-anaknya. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan izin Allah, dan Allah dapat membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Untuk membuat doa, Anda harus terlebih dahulu menyucikan niat Anda dan ingat bahwa segala sesuatu yang baik yang Anda lakukan atau yang harus dilakukan harus selalu dilakukan demi Allah. Ingatkan diri Anda akan kebajikan al-Qur'an agar tetap termotivasi.

 "Inilah Kitab yang tidak ada keraguannya, sebuah panduan bagi mereka yang sadar akan Allah." (QS Al Baqarah 2: 2)

Jangan lupa bahwa sebagai orang tua, adalah tugas Anda untuk menjaga anak-anak Anda dan memastikan mereka melakukan apa yang berkenan kepada Allah.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (Surah At-Tahrim 66: 6)

2. Anak-anak Anda harus sering mendengarkan Alquran.

Mulai bahkan sebelum anak-anak Anda lahir; Saat Anda masih hamil Saat merawat rumah, memasak, atau sekadar bersantai, bacalah al Quran sebanyak yang Anda bisa. Biarkan Alquran menenangkan bayi saat mereka merasa cemas atau menangis. Seiring pertumbuhan anak-anak Anda, teruskan perdengarkan audio bacaan Al-Qur'an di sekitar mereka beberapa menit sekali. Hal ini sangat penting bagi anak-anak untuk mengenal Alquran karena hal ini pada akhirnya akan memudahkan mereka untuk membaca dan bahkan menghafal InsyaAllah. Anda tidak perlu duduk anak-anak Anda berjam-jam karena mereka memiliki rentang perhatian yang jauh lebih pendek. Jangan membatasi bacaan dengan hanya Juz 'Amma karena fokus di sini adalah untuk membiasakan mereka dengan Alquran, tidak menghafal.

3. Pergi ke makna ayat / bab.

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. ." (Surah Sad 38:29)

Selain mendengarkan Alquran setiap hari, cobalah membahas arti ayat / surah. Jangan terlalu membebani mereka dengan terlalu banyak detail. Hanya memberitahu mereka cukup untuk menarik perhatian dan minat mereka. Gaya penyampaian Anda harus sesuai usia agar anak Anda mengerti dan mengikutinya dengan mudah.

4. Bagikan kisah indah Alquran.

 "Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu (Kami mewahyukan) termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Surah Yusuf 12: 3)

Allah menceritakan beberapa cerita dalam Al Qur'an, dan setiap cerita disertai pelajaran dan / atau inspirasi. Anda bisa berbagi cerita ini dengan anak-anak Anda dengan membaca buku anak-anak atau dengan menonton video kartun Islam yang terkait dengan topik ini. Berbagi cerita dari Al Qur'an membantu anak-anak memvisualisasikan Alquran sedikit lebih dan meningkatkan pemahaman mereka.

5. Tenang dan dorong mereka.

Tenanglah pada anak-anak Anda dan jangan memaksakan mereka untuk melakukan terlalu banyak sekaligus. Jangan sampai mendengarkan al Qur'an menjadi sebuah tugas. Konsisten, tapi beberapa menit pada satu waktu adalah semua yang Anda butuhkan untuk menarik perhatian anak-anak Anda. Akhirnya, mereka bahkan mungkin ingin mendengarkan / membaca untuk waktu yang lebih lama. Juga, cintai dan hindari hukuman karena hukuman bisa membuat anak-anak Anda memiliki semacam kebencian terhadap Alquran atau mungkin akan membuat mereka cukup takut untuk mendengarkan Al Qur'an saat Anda berada di sekitar atau karena Anda mengatakannya. Ingat, tujuannya adalah agar mereka mencintai Al Qur'an, tidak hanya mendengarkannya untuk menyenangkan hati Anda. Semakin banyak cinta yang mereka miliki untuk Alquran, maka mereka akan semakin mengingat Allah.

 "Orang-orang yg telah beriman & hati mereka jadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat) Allah maka hati akan menjadi tenteram." (Surah Ar-Ra'd 13:28)

Secara verbal dorong anak-anak Anda setiap kali mereka mendengarkan / membaca Al Qur'an. Senyum, biarkan mereka tahu seberapa baik Anda berpikir tentang apa yang mereka lakukan, dan betapa bangganya Anda dengan mereka. Cobalah untuk tidak membuat mereka terbiasa dengan hadiah nyata. Jika Anda mendapatkan mereka hadiah, membuatnya langka dan spontan. Anda tidak ingin anak-anak Anda membuat hubungan antara membaca Al Qur'an dan penghargaan instan dan nyata. Melainkan, biasakan untuk menjelaskan kepada mereka kebajikan al-Qur'an seperti penyembuhan dan perbuatan baik.

"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..." (Surah Al Isra' 17:82)

6. Melakukan kegiatan-kegiatan keluarga dan bermain game.

Lakukan kegiatan bersama seluruh keluarga dan datanglah dengan permainan yang sesuai berdasarkan fakta dari Al Qur'an. Contohnya adalah melakukan kuis dan menyiapkan tim yang berbeda untuk saling bertanding dengan cara yang kompetitif namun penuh kasih dan menyenangkan. Contoh lainnya adalah melakukan kegiatan yang mengharuskan setiap orang untuk berpartisipasi dengan melakukan penelitian dan melakukan kerajinan kreatif.

7. Dorong mereka untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari.

"Diriwayatkan oleh Utsman (ra dengan dia); Nabi (saw) berkata: "Yang terbaik di antara kamu (Muslim) adalah mereka yang belajar Alquran dan mengajarkannya." 1

Seiring meningkatnya pengetahuan anak-anak Anda tentang Alquran, biarkan mereka membagikannya kepada Anda. Juga, buat mereka cukup nyaman untuk mengoreksi Anda saat Anda membuat kesalahan dalam pembacaan Anda. Anda ingin mereka menjadi yang terbaik dengan mengajarkan apa yang telah mereka pelajari.

8. Perlihatkan dengan contoh.

Sederhananya, tindakan lebih keras daripada kata-kata. Anak-anak belajar lebih baik saat mereka melihat contoh, bukan saat mereka disuruh melakukannya. Dengarkan dan bacalah Alquran setiap hari; Bahkan untuk beberapa menit sekaligus. Tunjukkan pada anak-anak Anda pentingnya Alquran dan betapa Anda mencintai Alquran akan mendorong mereka untuk mengikuti jejak Anda diShaa Allah.

"Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. " (Surah At-Tur 52:21)

Pada akhir hari, yang bisa Anda lakukan hanyalah mencoba yang terbaik dan mempercayai Allah. Hasil pada segala hal terserah kepada Allah saja. Kita semua ingin dipertemukan kembali dengan anak-anak kita di Jannah, jadi ayo kita berusaha untuk berbuat baik dan bantu mereka melakukan hal yang sama InsyaAllah.

Tuesday, 6 June 2017

Enam Cara Mudah untuk Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadan

Enam Cara Mudah untuk Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadan



Dengan tanggung jawab kita yang tak terhitung jumlahnya dan tuntutan hidup sehari-hari yang tak pernah berakhir, banyak dari kita berjuang untuk menemukan waktu untuk mencapai tujuan kita di bulan Ramadhan. Kami merasa kewalahan dan kurangnya waktu yang membuat kami kecewa pada akhir setiap hari. Meskipun demikian, konsep yang sederhana namun mendalam memiliki potensi untuk mengubah Ramadhan dan seluruh kehidupan di sekitar kita!

Ramadan adalah bulan penuh Barakah. Tapi apa itu Barakah? Ini bukan tentang memiliki lebih banyak, melainkan kemampuan untuk berbuat lebih banyak dengan kekurangan yang Anda miliki. Barakah adalah Allah yang memberi kita berkat yang sangat besar dalam apa yang kita miliki, memberikan kepada kita peningkatan eksponensial di zaman kita. Menghasilkan hasil yang luar biasa dengan usaha minimalis; Itulah esensi dari Barakah! Dan apa waktu yang lebih baik untuk mulai menerapkan konsep transformasi hidup ini daripada di bulan Ramadan, bulan yang penuh Barakah dan bulan dimana buku yang sangat di berkati diturunkan. Dan dibawah ini adalah enam cara mudah untuk memaksimalkan amalan di bulan Ramadan


1) Maksimalkan Niat Anda

    Dikisahkan 'Umar bin Al-Khattab:

    Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pahala perbuatan bergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan yang dia niatkan ..." 1

Ini adalah rumus rahasia yang dengannya Allah akan memperbesar pahala kita di luar imajinasi! Pikirkan dua orang yang melakukan wudhu ': seseorang melakukannya dengan tujuan berdoa, sementara yang lain menambahkan bahwa niat untuk membersihkan dirinya dari setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya, semakin dekat dengan Allah dengan menyucikan dirinya baik secara fisik maupun spiritual Seperti melakukan sunnah yang dicintai. Manakah dari kedua orang ini yang akan menerima pahala berlimpah? Tanpa diragukan lagi, orang yang memiliki banyak niat untuk satu tindakan tunggal ini. Pahala berlimpah menunggu orang semacam itu karena kekuatan dan besarnya niat

Kita harus menghidupkan kembali ajaran indah ini selama bulan Ramadan untuk mendapatkan Barakah yang lebih besar dalam tindakan kita. Apakah Anda sedang membaca Alquran atau memasak iftar di dapur; Pastikan untuk memaksimalkan niat Anda, karena setiap perbuatan yang tampaknya kecil membawa pahala.

2) Baca Alquran

    "Dan ini [Alquran] adalah sebuah Kitab yang telah kita nyatakan [yang] diberkati, maka ikutilah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu menerima rahmat." 2

Allah menggambarkan Alquran sebagai diberkati, dan ini adalah fakta bahwa setiap pembaca akan bersaksi. Saya sendiri pernah mengalami hal ini sendiri, semakin saya melafalkan Alquran, semakin banyak barakah yang ada di waktuku, semakin banyak yang bisa saya capai dengan jam yang sama seperti yang saya alami setiap hari. Berapa banyak dari kita yang menginginkan waktu ekstra di siang hari untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai? Dengan buku yang diberkati ini, Anda tidak akan membutuhkannya.

Ramadan adalah bulan Alquran, dimana pembacaan harian kita meningkat dan di mana kita merenungkan dan merenungkan kata-kata Allah. Cukup membaca beberapa halaman lagi akan memberi Anda keuntungan yang tak terbayangkan di waktu Anda dan kebaikan yang tak terhitung banyaknya untuk setiap surat yang Anda ucapkan, dan itu akan membuat Anda memiliki hati yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan.

3) Memanfaatkan Jam Pagi

    Dikisahkan oleh Sakhr al-Ghamidi:

    Nabi ﷺ berkata: "Ya Allah, berkatilah kaumku di pagi hari mereka."

Pagi hari setelah fajar merupakan harta bagi setiap manusia. Jam-jam ini sangat diberkati oleh Allah dan orang-orang yang tidak memanfaatkannya memang sangat rugi. Pada saat-saat bahagia inilah seseorang bisa memiliki kejernihan pikiran, jauh dari semua gangguan, di mana mereka mampu menyelesaikan sejumlah tugas yang seharusnya bisa diambil sepanjang hari. Ini adalah aspek fundamental dari produktivitas yang diminta oleh semua ahli; Inilah jam emas yang tidak bisa kami tinggalkan. Apakah Anda seorang siswa dengan banyak ujian, seorang ibu muda dengan anak kecil yang menghabiskan sebagian besar waktu dan energi Anda, atau seorang Muslim yang berusaha untuk menghafal sebuah surah baru, inilah saat yang tepat bagi Anda untuk mulai bekerja, Mencobanya dan perhatikan bagaimana hari Anda berkembang!

4) Kurangi Penggunaan Handphone

Menghabiskan waktu berharga kami untuk hal-hal kecil seperti update status pada media sosial seharusnya menjadi hal terakhir yang ada dalam pikiran kita selama bulan Ramadhan. Cobalah untuk menjadikannya Ramadan bebas handphone, kecuali untuk memeriksa pesan penting dan pos bermanfaat, sehingga membuat waktu untuk kebangkitan kembali hati Anda dan pemurnian jiwamu dengan sedikit gangguan.

Kami mengklaim hanya menghabiskan lima menit untuk perangkat kami, tapi tidak hanya lima menit saja. Waktu kita adalah pemberian dari Allah, sebuah karunia yang akan kita pertanggung jawabkan, dan setiap saat berlalu adalah salah satu yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan kembali. Anda akan tercengang dengan waktu yang akan dibebaskan untuk Anda dengan sedikit teknologi; Anda akan menemukan barakah yang lebih besar di dalamnya, sehingga kesempatan untuk meningkatkan pengaruh Anda dalam berbuat baik meningkat.

5) Manfaatkan Waktu Luang Anda

Seseorang harus sadar akan tugas sehari-hari mereka untuk dapat memanfaatkan waktu luang selama hari mereka. Jika Anda seorang siswa yang pulang pergi maka Anda bisa menghabiskan beberapa menit ekstra Anda harus membaca Alquran, atau jika Anda sedang menunggu makanan dimasak, Anda dapat memanfaatkan menit penundaan zikir dan istighfar dimana hadiah Anda Akan terus meningkat. Kita harus melatih lidah kita untuk terus mengingat Allah selama jam-jam puasa agar tidak menjadi orang-orang yang kurang hati. Isi selang waktu Anda dengan tindakan sunnah yang secara inheren ditelan oleh Barakah yang sangat besar: Mulailah setiap tindakan dengan bismillah, jadilah konsisten dengan adhkar pagi dan sore, ucapkan terima kasih kepada Allah dan Dia akan meningkatkan Anda, inilah semua cara untuk secara signifikan memperbesar Barakah di Harimu, perbuatan sederhana namun menjanjikan ganjaran penghargaan!

6) Berdoa di Waktu Mustajab

Terutama selama bulan Ramadhan, lidah kita harus menjadi lembab dengan dzikir dan doa ', dan walaupun kita harus selalu melakukan doa setiap siang, ada jam-jam tertentu yang tidak dapat dilewatkan. Ini termasuk:

  •     Sepertiga terakhir malam itu,
  •     Antara adzan dan iqama,
  •     Sebelum berbuka puasa,
  •     Dalam sujood

Waktu ini adalah berkat yang tak terbatas, di mana Allah berjanji untuk menjawab doa doa kita, jadi bagaimana kita bisa meninggalkan mereka dan malah menyibukkan diri dengan hal-hal sepele dan tidak penting?

Sumber utama barakah dalam hidup kita adalah Allah, karenanya, kita harus terus-menerus membuat doa untuk barakah di zaman dan perbuatan kita. Doa berikut meminta Allah untuk melakukan apa yang telah kita berikan; Ini adalah bagian dari Dua Qunoot yang terkenal dan yang indah untuk memohon kepada Allah dengan:

{وبارك لي فيما أعطيت}

"Wa baarik lee feemaa 'a'atayta"

"Dan berkatilah aku dalam apa yang telah Engkau anugerahkan"

Titik untuk Refleksi

Imam Al-Bukhari, Muhaddith yang agung, telah hafal dan mengumpulkan lebih dari 600.000 hadits di Saheeh-nya. Imam an-Nawawi, seorang sarjana besar lainnya, mulai mencari pengetahuan pada usia 19 (yang dianggap cukup terlambat), dan dia meninggal dunia pada usia 40. Namun, dalam rentang waktu singkat ini dia dapat meninggalkan seorang Buku warisan dan inspirasional yang luar biasa yang dirujuk sampai hari ini. Darimana mereka mendapatkan waktu untuk mencapai hal-hal ini, Anda mungkin bertanya-tanya? Pasti itu Barakah!

Bulan Ramadhan yang diberkati diliputi oleh kebajikan dan berkat yang luar biasa, inilah bulan dimana setiap ras jiwa mencapai belas kasihan dan pengampunan oleh Allah. Di dalamnya, hati telah diperbaiki, jiwa dibersihkan dan pikiran dimurnikan oleh rahmat Allah. Gagasan yang digariskan dalam artikel ini sangat sederhana namun sangat berdampak jika kita menerapkannya secara konsisten. Mari mendedikasikan waktu Ramadhan ini untuk memperkuat ikatan dengan Pencipta kita dan memanjat tangga pertumbuhan spiritual!

Semoga Allah mengizinkan kita untuk menyaksikan bulan yang telah lama dinanti ini dan menghujani kita belas kasih dan pengampunan-Nya yang tak terbatas! Ameen.

Referensi : islamiconlineuniversity

Asal SEO

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done